Recently I question about myself. Who am I, what am I looking for.. I know it’s probably too late for raising such question. But for real, this type of question arise when we’ve gotta face some choices of our lives.
Not yet graduated, I ask 2 basic questions for myself:
1. When will I finish my undergraduate thesis?
2. What will I do for living (simply translated into: what will I do after I graduate)?
People will say, “Hey, finish what must you finish NOW first.” But I need my own motivation. Studying abroad? I don’t know, since my Mum can’t let me go that easy and I feel reluctant to negate her ideas of getting job as soon as I can. My Dad follows whatever I want. But for sure, both of my parents want me to work in Deplu. Kinda executive and wow-ish, eh?
I follow one by one of my ideas of living my future: I search for some scholarship informations, I contact some of lecturers and ask them questions. Even one of my lecturer who is studying for her PhD in Florida US now offers me to apply for scholarship in her college.
And once again, I think, those options should be faced with courage.
Hey, I suddenly remember with Eowyn, the Princess of Rohan
She needs courage to cover her identity thus she can join the battle in Pelennor Field. She taught Pippin (or Merry Brandybuck, can’t recall those brats) about courage. Courage, to fight for people we love
And what am I doing now?
Writing random pieces of my thoughts into unknown blog, that not even the most geje person is willing to read
I hate answers like “qui sera sera”, anyway. I don’t like hung stance. I need certainty. And this is what am I dealing with now.
I won’t live by having ‘following the flow’-sort of lifestyle. I am trying to answer: what I actually want for living, for my future.
…and in the other hand,
my thesis supervisor is HWAIHIHIHIHITIINGGGGG for meeeee..
HELP HELP HELP!
Tags: choices
October 31, 2009 at 5:19 pm |
pake bahasa indonesia wae ya pus.
If I write in english, I’m not sure how to say
Ya gitu deh pus. Hidup emang terus berputar, dan selalu saja kita terbayang-bayang dengan masa depan kita. Apa yang akan kita lakuin. Aku pun gtu. Bayang-bayang gmn prosesnya aku bakal nikah, gimana hidupku setelahnya and so on. But I’m sure I’ll face it (hayah)
for now on, hidupku serasa stak. tiap hari hanya menjalankan rutinitas yang entah kok terkadang aku rasa terlalu mbosenin. mungkin karena kurang improvisasi. Tapi syukur alhamdulillah, aku bahagia dengan hidupku saat ini. Aku merasa bahagia dengan apa yang sudah Dia berikan kepadaku. Dengan ghiroh untuk belajar ini. Walo dalam beberapa waktu tetep saja down. Bersyukurlah aku dekat dengan orang-orang sholeh, sehingga ketika down. Mereka bakal mengingatkan aku untuk terus berjuang.
Bagiku sekarang, hidup ndak bakal lama. So, aku mengahadapi apa yang bisa aku hadapi. Lebih narimo saja dengan kondisi. Mungkin juga karena sifat pemberontakQ rada surut, berganti dengan semangat asal benar ya wes tak ambil. Piye yo njelaskene. binun dewe aku
sebenere, kadang merasa otak ini kosong. sering lost connection ngono. kurang konsen. makane sekarang lebih seneng dengan old fashion blogging. juga dengan model tempelan dinding. karena semua itu membuat semua anggota tumbuhku menyadari apa yang aku tulis tentang apa yang yang sudah aku kerjakan, apa yang akan kerjakan dan apa yang belum.
I’m single and very happy (lol)
ending sek mekso
October 31, 2009 at 5:24 pm |
thank you Kurnia for the (very) quick response!
iya sih, kalo ngomongin masa depan pasti ada ‘harapan2′ orang lain yg nebeng kita, yang pengen kita gini, gitu..
tapi di satu sisi harapa itu jg memotivasi kita..
bosen dan stuck?
don’t be.
kan ada intermezo. heheheee..
ada internet (halah).
ending yg tambah maksa
October 31, 2009 at 7:02 pm |
Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuannya. Istikharah, minta dipilihkan kepada Allah yang terbaik utk agama, hidup, dan dampak yg akan terjadi kemudian.
Selesaikan yang harus diselesaikan. Jika sudah selesai satu perkara, hendaknya segera ke perkara yang lain; dan hanya kepada Allah kita berharap.
Btw, apa yang terjadi pada kita tidak selalu seperti yang kita harapkan. Dan apa yang kita harapkan tidak selalu lebih baik bagi kita daripada yang kita peroleh. Wallaahu a’lam.
October 31, 2009 at 7:04 pm |
terima kasih pak arif
November 1, 2009 at 2:12 pm |
Come on, get on your thesis. And join us in the “real world” of job seeker
November 1, 2009 at 5:28 pm |
I will.. I will
thanks, Suryo..
November 2, 2009 at 7:09 am |
aku pengen kuliah lagi di psikologi. supaya lebih berwibawa kalo menangani pasien yang mewek pas konsultasi.
November 2, 2009 at 7:14 am |
mukyaaaaaaaaaaaaaaaaaa..
>__<
aku tersindiiirrrrr..